Saturday, 28 June 2014

Kembali ke Muara Gembong yang Sederhana


Hanis memandang saya bingung. Ia ragu untuk melanjutkan perjalanan menuju Desa Muara Gembong demi menemukan ujung pesisir Bekasi   demi sebuah daratan bernama Pantai Beting. Jalanan berlumpur bekas hujan tadi malam menghadang sepeda motor yang kami tunggangi. Ini adalah lumpur ke-sekian yang akan kami lewati.

"Kita harus lewat mana lagi? Kanan kirinya lumpur juga. Gue takut kepleset!" Ujar Hanis panik. Saya hanya meringis menatap jalanan berlumpur sambil membayangkan apabila saya jatuh, akan sulit mencuci pakaian yang melekat di tubuh saya.

"Bismillah aja." Ujar saya pasrah. Hanis kembali menyalakan sepeda motor dan mengendarainya perlahan, melintasi kubangan lumpur nan licin dengan sangat hati-hati. Saya merasa ada yang ganjil dengan roda depan. Firasat saya tidak enak. Selang beberapa detik, kendali motor mulai oleng dan kami terjerembap ke dalam lumpur hitam.

ini habis cuci kaki

Setelah merasakan sensasi jatuh bangun dan kotor-kotoran naik motor, kami bertemu dengan Bang Samba, warga lokal yang akan mengantar kami ke Pantai Beting. Kami sempat takjub mengamati gayanya mengendarai motor dengan sangat lincah saat melintasi jalanan berlumpur. Sementara kami yang sudah berhati-hati, masih saja jatuh lagi. Tak apalah, kalau kata iklan sabun cuci, berani kotor itu baik.

Bang Samba mengarahkan motornya ke desa paling ujung Muara Gembong, kemudian memarkirnya pada pelataran sebuah rumah. Setelah bercakap-cakap tentang tujuan utama kami ke sana, yaitu ke Pantai Beting, akhirnya sebuah perahu lengkap dengan nelayannya siap mengantar kami ke lokasi tujuan.

Ini adalah kedua kalinya saya berkunjung ke Muara Gembong   sebelumnya pernah saya ceritakan di sini. Dulu saat ke sini, desa sedang kering dan cuaca sedang terik-teriknya. Sedangkan beberapa hari sebelum saya berkunjung lagi, hujan terus mengguyur desa ini sehingga air laut kembali pasang dan naik ke permukiman warga   serta membuat jalanan yang sebagian besar masih tanah belum diaspal ini, berubah menjadi lumpur yang sukses membuat beberapa korban berjatuhan seperti saya. Beruntunglah, perjalanan kali ini tidak ditemani hujan. Hanya dihiasi langit mendung dan angin sejuk yang memberi kesan sendu.

Perahu Nelayan

Tanpa disangka, dua anak pak nelayan turut serta menaiki perahu yang kami sewa. Mumpung libur sekolah, mau ikut main ke pantai, katanya. Pohon-pohon bakau yang mulai berbuah menemani perjalanan kami menyusuri sungai Citarum yang bermuara ke laut lepas. Kata Bang Samba, buah-buah (bibit) dari pohon bakau ini kalau sudah jatuh dan tertancap ke tanah, kelak akan tumbuh menjadi pohon baru. Keren, ya.


Buah (bibit) bakaunya yang panjang dan menggelantung itu

Laut Lepas

"Ini kedalamannya berapa meter, Bang?" Tanya saya iseng.

"Dua meteran, lah. Dulu kan di sini daratan. Cuma karena pohon bakaunya banyak yang ditebang dan dijadikan tambak, habislah desa ini terendam karena abrasi. Dulu saya waktu kecil kalau mau ke pantai tinggal jalan kaki, nggak usah nyeberang pakai perahu." Jelas Bang Samba.

"Pantai Beting artinya apa, Bang?" 

"Beting itu, kayak semacam endapan pasir gitu. Biasanya pasir-pasir dari muara sungai sebelum ke laut." Jawab Bang Samba yang kami balas dengan 'oooh' panjang.

Selang limabelas menit, perahu kami menepi di sebuah pulau tak berpenghuni. Inilah Pantai Beting yang terletak di ujung Bekasi, sebuah destinasi wisata yang hampir dilupakan oleh pemerintah setempat sekaligus masyarakat Bekasi sendiri.

Pantai Muara Beting

Saya agak kecewa dengan kondisi langit yang sangat tidak mendukung untuk berfoto. Padahal foto-foto Muara Beting di Google bagus-bagus, loh. Pasir pantainya memang cokelat, air lautnya juga keruh. Namun dua anak pak nelayan asyik sekali bermain air dan berlari menyusuri pantai.

"Di sebelah sana masih ada pantai juga!" Ujar Bang Samba sambil terus berjalan meninggalkan saya. Saya segera beranjak dan mengikuti kemana ia berjalan. Rasa sedih menyelimuti hati saya. Andai Muara Gembong dirawat dan dijadikan objek wisata, atau minimal dijadikan kawasan konservasi. Karena beberapa satwa langka seperti Lutung Jawa masih ada di sini.

Kerang-kerang kecil
Bunga-bunga di pantai
Di sini masih ada capung loh :')
Keceriaan anak Muara Gembong
Terperosok ke lumpur (lagi)

Kami tak berlama-lama main di Pantai Beting karena akan segera ke Pantai Sederhana. Namun sayang, ketika kami tiba di desa terakhir sebelum menyeberang ke Pantai Sederhana, eh Pantainya sudah terendam air laut yang pasang. Iya, kami kesorean tiba di sana. Dan Pantai Sederhana ini adalah sebuah pulau yang timbul karena endapan pasir dan biasa disebut delta.

Untunglah, di dermaga sebelum menyeberang ke Pantai Sederhana, telah dibangun sebuah menara yang terdapat lampu sorot untuk memberi tanda kepada para nelayan. Kami naik-naik ke atas menara dengan tinggi sekitar 10 meter, atau 15? Duh, lupa :( Pokoknya, dari atas menara, kami bisa melihat permukiman Muara Gembong dan hutan bakau yang menjadi pelindung dari desa ini.

Sungai Citarum
Hutan Bakau

Kawasan ini terlihat kumuh, seperti pesisir yang memang dilupakan. Masyarakat menyesali penebangan pohon bakau dan merubahnya menjadi area tambak. Bukannya untung, malah buntung. Usaha tambak sendiri juga tak berjalan lancar. Andai dulu pemerintah melarang atau minimal mengedukasi masyarakat akan guna hutan bakau sebagai pelindung pantai dari terjangan ombak secara langsung, pasti Muara Gembong tidak akan kehilangan tiga desa akibat abrasi pantai.

"Terus solusinya gimana, Bang?"

"Ya, kita mulai dari awal lagi. Menanam pohon bakau lagi."

"Numbuhnya berapa lama?"

"Lama banget! Padahal nebangnya cuma sebentar, tapi dampaknya jangka panjang."


Bijaklah dalam bersikap. Atau anak-cucu kita, mereka yang tak tahu apa-apa, yang harus merasakan dampaknya di kemudian hari.

***

15 comments:

  1. Miris ya melihat pantai yang kondisinya mengenaskan seperti ini. Gara-gara pohon bakau ditebangi jadi terkena abrasi. Haduh, manusia... manusia...

    Di Jogja sendiri juga sedang marak-maraknya pembangunan tambak-tambak udang di pesisir pantai. Padahal keberadaan tambak udang itu merusak ekosistem pesisir pantai. :(

    sumber:
    http://krjogja.com/read/218793/lurah-parangtritis-siap-hentikan-pembangunan-tambak.kr

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas. kadang mereka juga ndak tahu akibatnya karena memang gak ada larangannya :(

      Delete
  2. Ternyata bekasi ada pantai ya? Baru tahu :))

    Jadi turis di kota sendiri emang menyenangkan, sih. Hehe.

    ReplyDelete
  3. iya. aku sendiri tau udah dari dulu, tapi baru sempat kesana karena memang nggak ada akses buat umum :'(

    ReplyDelete
  4. Perjuangannya berat banget ya untuk menempuh pantai tersebut, sayangnya pantainya sudah miris kondisinya. Semoga kedepannya bisa dikembangkan lagi potensi pantai tersebut. Btw, kunjugan balik juga ya kak: Galassia del Sogno by Rosiy | http://gebrokenruit.blogspot.com/ Followback juga boleh hehe:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa, tapi untunglah masih ada zona hijaunya di Muara Gembong ini ~> http://www.menujujauh.com/2014/05/mengenal-sisi-lain-bekasi-lewat-muara.html :')

      baiklah meluncur tekape ~

      Delete
  5. pantai itu indah tapi tangan manusialah yg membuatnta tak indah. abrasi sudah makanan biasa bagi penduduk dekat pantai.kalau ada yg peduli hrs benar2 stand bye di sana kalau tdk pohon bakau akan hilang. Kami di cirebon selalu nanam bakau tp krn tidak ada yang menjaganya tetap saja hilang tak berbekas

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi cirebon juga sering banjir gitu kak?

      Delete
  6. Itulah ulah manusia yg terlalu serakah, pohon bakau di tebang dijadikan tambak dll. Akhirnya kan abrasi dan daratan menjadi lautan :-( aku sedih kalo liat ulah manusia seperti ini #PinginNyandarDibahu

    ReplyDelete
  7. wh baru tau saya di bekasi ad pantai.... Indonesia memang kaya mari kita jaga alamnya....

    ReplyDelete
  8. Wahhh..kampung Ku nih..syurga nya bekasi

    ReplyDelete
  9. Wahhh..kampung Ku nih..syurga nya bekasi

    ReplyDelete
  10. nebangnya sebentar tapi dampaknya begitu besar juga ya, apalagi kalau sudah terjadi abrasi, semoga saja pohon-pohon bakau itu terus di kembangkan hingga bisa menjadi penyangga agar tidak terjadi abrasi lagi..

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...