Wednesday, 10 August 2016

Tragedi H-40 Menjelang Pernikahan

Foto diambil tahun 2013. Saat punggung nyeri karena naik gunung bawa beban berat.

Premenstrual syndrome membuat saya menjadi perempuan yang menyebalkan. Hari itu, ibu membangunkan saya lebih pagi, agar bergegas menyiapkan sarapan dan berangkat ke kantor. Namun sikap malas saya membuat ibu jengkel dan menggerutu. Alih-alih bertengkar dan merusak suasana pagi, ibu memilih untuk bermain bersama anak bungsu dan cucu pertamanya, membiarkan saya yang tubuhnya seperti sapi gelonggongan ini teronggok di atas kasur, menahan perut yang mulai mulas tak karuan.

Kakak saya yang baru belajar online shop tiba-tiba mengetuk pintu kamar. "Apa?", tanya saya sekenanya. Ia bertanya, apakah saya memiliki kardus untuk packing cheese-stick yang dijualnya. Ia sedang membutuhkan kardus ukuran besar untuk packing cheese-stick seberat 20 kilogram. Dengan ketus saya menjawab, "Nanya kardus ke saya. Memangnya saya pemulung?"


Untung, ucapan saya tak diambil hati. Kakak saya malah tertawa sambil membalas, "Yee, emang yang ngumpulin kardus cuma pemulung?" Gerutuannya semakin samar. Saya kembali terlelap di kasur yang spreinya sudah berantakan.

Tak lama, ponsel saya bergetar. Pesan singkat dari Hanis yang berisi, "Selamat pagi, Sayang", ditambah emoticon senyum sebagai penghias agar terkesan lebih manis. Saya yang muak usai mengurus kebutuhan undangan pernikahan semalam suntuk, sementara ia di ujung sana malah tidur tanpa membantu apa-apa, membuat saya akhirnya membalas dengan dua kata saja, "Iya... pagi."

Melihat gelagat aneh bahwa saya tak seriang biasanya, Hanis menanyakan keadaan saya, yang hanya saya jawab dengan dua kata saja. Saya ngantuk.

Yak, pagi itu saya sudah bersikap buruk dengan tiga orang yang selalu menemani hari-hari saya.

Dengan malas, saya bergegas mandi, berkemas dan akhirnya berangkat ke kantor. Tanpa sarapan, pun tanpa membawa bekal untuk makan siang. Dan saya lupa, bahwa 26 Juli 2016 adalah H-40 menjelang hari pernikahan. Hari dimana perempuan Jawa pada umumnya dipingit dan tidak diperbolehkan keluar rumah sampai hari pernikahannya tiba.

Sementara saya, justru pergi meninggalkan rumah dalam keadaan emosi dan membuat orang-orang kesayangan saya sakit hati atas perbuatan saya pagi tadi. Ditambah lagi, saya lupa mengucapkan doa hendak berkendara seperti biasanya.

Orang Bekasi tentu tahu perempatan Rawa Panjang. Rute saya menuju kantor adalah melalui Jalan Raya Narogong yang penuh dengan truk. Daripada belok ke kiri dan melewati Bekasi Square (sekarang Revo Town), saya lebih memilih jalan lurus, melewati Gedung MK dan memilih jalan di belakang pusat perkantoran serta kedinasan Bekasi. Jalanannya yang teduh dan rimbun membuat saya lebih nyaman dibanding harus melewati RS Mitra Bekasi Barat yang penuh angkot dan polisi.

Namun malang. Belum juga sampai di tempat teduh dengan gemercik sungai kecokelatan itu, saya kecelakaan, menabrak pengendara di depan dan saya pun tertabrak dari belakang. Tepat di percabangan satu arah usai melewati flyover, seorang pengendara motor dari Jalan Chairil Anwar yang memang kebetulan belok ke kanan menuju perempatan Kartini malah mengambil jarak cukup jauh. Sudah tahu mau belok, malah ke tengah. Akhirnya, terjadilah kecelakaan beruntun itu.

Saya terpental. Dengan tas berisikan laptop di bagian punggung atas, sementara punggung bawah saya menghantam aspal cukup keras. Sekuat tenaga, saya berusaha bangun untuk melihat kondisi motor. Saya yakin bahwa saya tak salah lihat, motor saya tersangkut di motor pengendara di depan tadi, ia berjalan ke pinggir dan tak jatuh sama sekali. Tak rusak maupun tergores sedikit pun. Sementara motor lain sudah hancur dan penyok-penyok di beberapa bagian. Mungkin itulah mukjizat dari motor tanpa riba alias bukan kreditan.

Sementara saya, mengerang kesakitan. Tubuh saya rebah tak dapat bergerak. Digotonglah saya ke tepi jalan. Tas saya dilepaskan. Punggung saya diluruskan. Kepala saya disejajarkan. Saya berterimakasih kepada Tuhan, nyawa saya masih diselamatkan. Beruntung, saya hobi menggunakan sepatu, jaket dan helm tertutup tiap kali berkendara. Jika tidak, entah babak belur seperti apa jadinya.

Jika motor yang tak lecet sedikitpun itu adalah mukjizat karena dibeli bekas, kontan dan tanpa cicilan, mungkin tubuh yang ringkih ini diberi sakit karena teguran dari Allah atas sikap buruk pagi tadi. Sekaligus mengingatkan bahwa pernikahan telah menjelang 40 hari lagi.

"Tidak kenapa-napa, Neng?" Tanya salah seorang bapak. Saya masih linglung dikerumuni banyak orang. Beberapa orang menawarkan minum. Saya menggeleng dan memastikan bahwa saya baik-baik saja. Mencoba duduk, berhasil. Mencoba berdiri, yaa agak nyeri... sedikit.

Tiga orang pengendara motor akhirnya berdamai. Kerusakan motor sepakat untuk ditanggung sendiri-sendiri, saya pun tidak menuntut untuk diobati. Kemudian ramai-ramai di tepi jalan tadi akhirnya bubar. Saya merasa tak beres pada bagian tulang ekor yang menghantam aspal tadi. Saya putuskan untuk mampir ke tukang pijat sesampainya di kantor nanti. Namun saya yang sok kuat ini tiba-tiba sesak dan menangis kesakitan. Rasa nyeri menjalar di sepanjang tulang belakang hingga tempurung kepala. Pusing dan sakit sekali. Mencoba duduk salah, berdiri pun tak mampu. Saya resmi tak bisa melanjutkan perjalanan.

Hanis tak pernah absen menjaga saya, walau saya seringkali bersikap galak padanya. Saya laporan. Satu kata saya ketik pada aplikasi chatting. Kecelakaan. Dengan sigap, ia langsung menuju lokasi dimana saya berada. Saya tak dapat berhenti menangis, menahan nyeri pada bokong yang seperti ditusuk ketika duduk. Saya tak dapat duduk dengan sempurna. Saya menangis sejadi-jadinya. Saya berusaha untuk tetap berhusnudzhon kepada Allah bahwa tak akan terjadi apa-apa. Saya memohon agar tidak lumpuh atau buta seperti efek dari cidera tulang ekor atau tulang punggung pada umumnya. Egois memang. Dikala setiap shalat selalu menyebutkan bahwa sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup-matiku untuk Allah, Tuhan semesta alam, namun hati tak kunjung rela bila salah satu bagian tubuh diambil atau kehilangan fungsinya. Padahal, semuanya hanya titipan, kan?

Hanis datang dengan berurai air mata. Merasa bersalah membiarkan saya yang mengantuk malah berkendara sendirian. Motor saya, ia titipkan pada penjual sop buah yang memang sehari-harinya berdagang dan mendirikan gerobaknya di pinggir jalan. Ia memapah saya untuk menaiki jok belakang motornya. Saya menolak untuk ke rumah sakit, karena saya bukan anggota BPJS, dan menjadi pasien umum akibat kecelakaan lalu lintas tentulah mahal. Sementara saya masih punya fasilitas kesehatan gratis di salah satu laboratorium dan klinik tempat kakak saya bekerja. Akhirnya, saya memilih untuk diantar ke rumah untuk dipijat terlebih dahulu.

Sepanjang jalan, saya mencengkeram pinggang Hanis, menahan sakit. Hanis menuntun saya untuk terus beristighfar, memohon ampun pada-Nya. Air mata saya meleleh, mebanjiri kerudung yang sudah tak karuan bentuknya. Sesekali saya berkata lirih, "Sakiiiit..." dan Hanis memelankan kembali laju motornya. Saya tidak tahu bagaimana jadinya kalau tak ada dia.

Di pintu pagar, ibu melongo melihat saya yang sudah acak-acakan. Saya berjalan pelan dan tersungkur di lantai. Ibu segera mencari tukang urut langganan. Percaya tak percaya, nyeri pada bokong harus segera disembuhkan. Masalah rontgen nanti saja, belakangan.

Selasa, 10 Agustus 2016. Sudah dua minggu pasca kecelakaan. Urut, rontgen, fisioterapi, berenang, sudah semua dilakukan. Tak ada retak ataupun patah tulang. Dokter hanya berpesan, jangan pakai sepatu high-heels, jangan bawa beban berat-berat.

Lalu, bagaimana nasib saya yang pendaki abal-abal ini? Haruskah sewa porter tiap ingin mendaki gunung lagi? Ah, mendaki gunung tak setiap hari. Yang lebih penting adalah, bagaimana nasib saya yang pekerja kantoran sekaligus mahasiswa tingkat akhir ini? Dengan laptop seberat 2 kilogram, serta buku pustaka yang harus selalu dibawa tiap kali bimbingan. Bagaimana nasibnya?

Bagaimana saya memberi tahu orang-orang di commuter line bahwa saya menderita hyperlordosis, kelainan tulang belakang yang entah kapan sembuhnya, dan meminta kesediaan mereka untuk memberikan tempat duduknya kepada saya..

atau, bagaimana nasib saya di hari pernikahan nanti? Membayangkan berdiri seharian saja rasanya sudah ingin pingsan.

Perang batin berkecamuk. Egoisme saya akhirnya mengalah. Saya pasrah. Pilihan untuk beribadah saat itu hanya dua, shalat sambil berdiri atau sambil berbaring. Saya tak bisa duduk selama satu minggu. Nyeri pada tulang ekor rasanya sampai ke ubun-ubun. Saya belajar untuk melaksanakan ibadah dengan perlahan, pasrah dan tidak tergesa-gesa.

Saya juga belajar untuk mengenali seberapa kapasitas saya dan tidak memaksakan kehendak.

Dan yang paling penting, saya belajar untuk sabar.

Sabar untuk menerima kenyataan, sabar dalam bersikap, sabar dalam hal apapun. Karena jika saya tergesa-gesa, saya akan merasakan sakit luar biasa. Saya bahkan tak mampu untuk menunaikan sedekah bersin lagi, saya memilih untuk menahannya. Karena goncangan tubuh saat bersin membuat tulang belakang cenat-cenut sampai saya demam semalam suntuk. Beberapa kali terbatuk pun membuat saya harus merebahkan badan sesaat karena rasa sakitnya punggung menyebar sampai ke kepala.

Kali pertama saya kembali bekerja ke kantor, 8 jam penuh duduk di kursi empuk, pada malam harinya si tulang belakang kembali membuat saya tersesak. Hal itu berulang, setiap harinya, sesaat sebelum tidur. Saya juga sudah tidak bisa menggunakan bantal sebagai alas kepala saat tidur. Pun menggunakan kasur empuk yang mahal harganya. Nikmatnya hidup berangsur-angsur mulai dicabut. Apapun saya lakukan untuk membuat si tulang belakang kembali lurus.

Pertanyaan ini kerap menghampiri saya. "Sudah sembuh?" Yaa, doakan saja. Dokter saya pun tidak bisa memberi kepastian kapan sembuhnya. Yang terpenting adalah menjaga pola hidup. Sementara aktivitas sehari-hari masih mewajibkan saya membawa beban berat di punggung. Jadi, ya silakan jawab sendiri, kira-kira saya bisa sembuhnya kapan. Kakak saya yang juga tenaga medis bahkan mengingatkan, bahwa kelainan tulang seperti yang saya derita ini tidak dapat melakukan persalinan secara normal.

Namun, hidup harus terus diperjuangkan, kan?
Berbekal bismillah, saya memulai semuanya dari awal lagi.
Merangkak lagi, belajar untuk berjalan lagi, walau saya sadar bahwa saya tidak boleh lari-lari lagi.
KKN, alias Kuliah Kerja Nikah harus berjalan dengan seimbang.
Tanggung jawab semakin banyak, namun tubuh semakin rapuh.

Seorang teman mengingatkan bahwa amanah tidak akan pernah salah pundak.

Eh iya, kalaupun ada kesempatan untuk naik gunung lagi, doakan saya bisa punya budget lebih untuk sewa porter, ya :)


Aamiin.

21 comments:

  1. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan yg terbaik. Itu saja doa dari saya.

    ReplyDelete
  2. Makin amanah, trus gk marah2 lagi ama hanis...

    ReplyDelete
  3. Nduuk, baru baca :(
    Syafakallah yaa. Diberikan kesehatan, diberikan kesabaran, diberikan kekuatan.
    Allah with you, Git.
    Lancar sampai nanti, kalau bersedia naik gunung sama aku, tak bawain deh kerilnya *belaguk ya* haha becanda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbaaaaaakkkk suwun yaaaa dah dateeeeeng :'''')

      Delete
  4. syafakillah yahh kaaaa,,, semoga enggak ada apa apa lagi sampai hari pernikahan nanti yahh kaaa

    ReplyDelete
  5. Cihuyyyyy mau nikah ihik ihik hahaha
    Semoga semua nya lancar

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah lancar kak cuuuum

      Delete
    2. Gimana udah sehat ???
      aku baca ulang postingan ini, semoga diberi kekuatan dan selalu sehat
      Dan yang bikin daku makjleb quote nya "Amanah tidak akan pernah salah pundak"

      Delete
  6. kalu sedang ngantuk trus berkendara memang berbahaya, untuk mbaknya punya pacar yang sigap sekali..

    ReplyDelete
  7. semangattt semoga dilancarin semuanyaaa

    Adis takdos
    travel comedy blogger
    www.whateverbackpacker.com

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...