Showing posts with label City Trip. Show all posts
Showing posts with label City Trip. Show all posts

Wednesday, 29 January 2014

Antara Bandung dan Buku


Menurutku, Bandung pukul sepuluh pagi itu masih sama seperti Bandung pukul enam pagi. Dingin dan mendung. Rasanya malas bila harus segera pulang dari kota kembang penuh kenangan ini. Namun Nauvel memburu-buruku dengan alasan, "Kita harus ke Kineruku dan Palasari! Jajan buku!!"

Mendengar kata buku, akhirnya aku segera bangun dan bergegas untuk mandi. Mandi dengan guyuran air Bandung yang dingin menusuk tulang. Nauvel sering bercerita tentang Kineruku yang merupakan tempat asik untuk membaca dalam suasana tenang, sementara Palasari yaitu pusat buku murah di Bandung.

Setelah sarapan dengan Lontong Padang, Nauvel mengendarai motornya menuju Jalan Hegarmanah. Aku yang masih terkantuk-kantuk merasakan angin dingin menampar pipi. Kayaknya enak kalo bobo di pundak Opel. Uwuwuwuwu :3

Belum sempat aku tertidur, sampailah kami di Rumah Buku Kineruku; baca, dengar, tonton.



Disini, bisa baca buku sepuasnya dari pagi sampai malam. Bisa juga beli buku, nonton film, nyemil-nyemil kentang sampai ngopi-ngopi. Buku bacaan yang tersedia pun bermacam-macam dari mulai buku sastra, sosiologi, budaya, sejarah, arsitektur, seni, desain, filsafat hingga cerita wayang pun ada. Aku betah. Ditambah lagi suasananya benar-benar berasa sedang berada di rumah.

Aku dan Nauvel memilih sofa di halaman belakang. Nauvel membaca buku Rojak karya Fira Basuki sementara aku memilih Rectoverso milik Dee Lestari. Buku dengan cover berwarna hijau itu menarik perhatianku sejak melangkah masuk ke dalam Kineruku. Aku ingin membaca Firasat, Peluk dan Selamat Ulang Tahun. Entah mengapa. Kadang, kita tak perlu alasan untuk melakukan sesuatu yang kita inginkan. Dan kadang, pilihan yang terbaik adalah menerima.

Ternyata, surga yang dimiliki Bandung tak hanya ada di Dago Pakar dengan kerlip lampu kota yang membinarkan mata. Disini, aku juga menemukan potongan surga.





"Nanti kapan-kapan kalau kesini lagi kita nonton film, ya. Sekarang baca buku dulu aja sambil bengong." Ujar Nauvel. Sebenarnya aku ini memang bawel dan banyak tingkah. Namun dihadapan Nauvel dan buku-buku sebanyak ini, aku bisa apa? :"

"Rasa hangat ketika kedua tubuh bertemu, rasa lengkap ketika dua jiwa mendekat, rasa rindu yang tuntas ketika kedua pasang mata menatap." - Rectoverso.

Kami menghabiskan waktu disana selama hampir tiga jam. Setelahnya aku merengek agar cepat pulang karena takut kemalaman sampai rumah. Mengingat saat itu Tol Cipularang masih amblas dan pasti akan macet sekali.

Masih ada potongan surga lainnya yang membuatku tak bisa apa-apa selain menunjukkan ekspresi wajah berbinar dan mendesis 'Waaahhh...'. Pernah melihat bagaimana ekspresiku bila melihat pisang? Ya, hal itu akan terjadi ketika aku melihat setumpuk buku.

Selanjutnya Palasari. Entah mengapa Bandung mendadak cerah bahkan bisa dikatakan panas. Padahal menurut Nauvel, hari-hari biasanya hujan lebat disertai suhu ekstrem yang membuat setiap detiknya seperti butuh pelukan. Kali ini lain, Bandung seolah menyambut kehadiranku. Hihihihi :D

Setibanya di Palasari, bayanganku terlempar ke Pusat Buku Pasar Senen. Kios-kios buku berjejeran dari buku bekas sampai buku baru. Nauvel melirikku heran ketika ku putuskan untuk membeli buku Dilema karya Alvi Syahrin. Iya, ia memang bukan penggemar teenlit. Sementara aku membeli buku ini hanya karena penasaran dengan gaya menulis Alvi. Beberapa waktu sebelumnya kami pernah bertemu dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Gagas Media dan Bukune.


Koridornya sempit sekali hingga badanku yang mungil namun lebar ini kerap kali menyenggol buku-buku yang tidak masuk ke dalam rak atau sekedar hanya ditumpuk di lantai. Setelah membayar dan Nauvel puas melihat-lihat, ia mengantarku ke terminal. Sebelum menaiki bis pulang, hadiah untuknya buru-buru kuserahkan. Coba tebak, aku kasih kado apa? Hihihi.

Selamat memasuki usia ke 23, travel-mate kesayangan.
Semoga kita bisa jalan-jalan lagi dan terus kembangin brand Menuju Jauh ini yaa ~~~\o/




**catatan: Bukannya nggak mau foto sendiri, tapi selama di Bandung aku merasa nggak butuh henfon. Jadi ya dimatiin aja henfonnya :)

Tuesday, 28 January 2014

Bandung itu Kamu



Foto : Pidi-Baiq.tumblr.com

Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah Wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan Perasaan, yang bersamaku ketika sunyi. Mungkin saja ada tempat yang lainnya, ketika kuberada di sana, akan tetapi Perasaanku sepenuhnya ada di Bandung, yang bersamaku ketika rindu. - Pidi Baiq.


Sabtu, 25 Januari 2013.

Kereta Argo Parahyangan mulai bergerak perlahan meninggalkan Stasiun Bekasi. Bunyi peluit petugas Stasiun menjerit panjang disambut dengan suara klakson kereta yang memekakkan telinga. Tapi bebunyian se-berisik itu seolah terasa kalah oleh gemuruh yang meletup-letup di dada.

Saturday, 30 November 2013

Solo Traveling atau Traveling ke Solo? Dua-duanya Bisa!


Hai, Traveler yang budiman :)
Menurut kalian, kota mana sih yang paling berkesan dari segi wisata, sejarah, kuliner dan memiliki kenangan tersendiri? Pasti rata-rata menjawab Yogyakarta dan Bandung! Iya, Yogyakarta dan Bandung memang paling unggul dalam segi wisata, sejarah dan kuliner. Terlebih lagi kedua kota tersebut memiliki kesan romantis sehingga pastinya memiliki kenangan tersendiri bagi teman-teman traveler. Yogyakarta dan Bandung lebih asik bila dijelajahi bersama pasangan, bukan? Kalau Solo traveling cocoknya kemana, yah?

Jangan bingung! Solo juga punya semuanya!
Kadang kita melupakan sebuah kota kecil yang terletak di Provinsi Jawa Tengah ini. Kota yang pernah diperintah oleh Pak Jokowi ini ternyata diam-diam memiliki potensi yang tak kalah hebat dengan Yogyakarta dan Bandung. Slogan Kota Solo sendiri yaitu "Solo : The Spirit Of Java" yang berarti jiwanya Jawa. Serta memiliki semboyan "Berseri" yang merupakan singkatan dari Bersih, Sehat, Rapi dan Indah. Kebayang, kan gimana nyamannya Kota Solo?


Berkas:Solo Collage.jpg
Sumber : Wikipedia


Kota Solo cukup aman untuk Solo Traveling. Akses menuju kesana pun mudah. Bisa dengan menggunakan pesawat, kereta, bus atau kendaraan pribadi. Untuk pesawat, teman-teman traveler bisa mencari penerbangan dengan tujuan Bandara Internasional Adi Sumarmo dengan kode (SOC). Untuk kereta, Kota Solo memiliki tiga stasiun utama yaitu Stasiun Solo Jebres, Stasiun Purwosari dan Stasiun Solo Balapan. Terlebih lagi dengan Bus, jangan takut bila tiba di Terminal Tirtonadi. Tak akan kalian temukan calo' atau preman seperti di kota-kota lainnya. Penduduk Solo yang ramah membuat kota ini semakin nyaman untuk dikunjungi. Sementara, bila datang ke Solo dengan menggunakan kendaraan pribadi pun tak sulit. Letaknya tak begitu jauh dari Yogyakarta. Papan penunjuk jalan juga terpampang dengan jelas. Nggak akan nyasar deh pokoknya! Kalau mau keliling-keliling Solo sendirian tapi tidak punya kendaraan, bisa naik Batik Solo Trans seharga tigaribu rupiah. Atau bila butuh sopir pribadi, Bapak Tukang Becak siap mengantar kemanapun teman-teman traveler pergi.

Tuesday, 29 October 2013

Pedalaman Tanjung Enim, Palembang

Palembang, sebuah kota yang terletak di Pulau Sumatera bagian selatan. Dengan mpek-mpek sebagai makanan tradisionalnya, dan Jembatan Ampera yang membelah Sungai Musi sebagai ikon dari kota tersebut. Beberapa bulan lalu saya mendapat tugas kesana. Saya telah membayangkan berada di tengah-tengah atmosfer kota yang penuh dengan cici dan koko-koko. Namun bayangan saya salah, saya ditugaskan ke hutan, hutan pedalaman Tanjung Enim.

Tanjung Enim merupakan bagian dari Kabupaten Muara Enim yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan dan dikenal sebagai salah satu tempat pertambangan batu bara terbesar di Pulau Sumatera. Ya, saya mendapat perintah untuk menjalankan medical check-up di satu pertambangan paling terkenal di Tanjung Enim. Tanpa disebut namanya pun pasti warga setempat tahu. Saya dan tim diberi waktu selama sepuluh hari untuk memeriksa kesehatan pegawai yang bekerja di perusahaan tambang tersebut dengan total lebih dari seribu pegawai.

Disana, kami disediakan mess. Mess putri disediakan satu ruangan sementara yang putra tidur di klinik. Kebetulan alat-alat kesehatan semuanya kami bawa dari Jakarta sehingga benar-benar harus dijaga dan dikontrol setiap waktu. Mess ini terletak di dalam hutan. Sepanjang jalan dari kota menuju kesini hanyalah hutan dan pertambangan. Kendaraan yang boleh keluar masuk area ini pun hanyalah kendaraan yang berlambangkan perusahaan tersebut. Bayangkan saja bagaimana ribetnya akses ke kota.

Niat awal menerima tawaran medical check up di luar pulau dengan harapan bisa menyempatkan jalan-jalan ke Jembatan Ampera atau sekedar melihat-lihat kawasan Gunung Dempo pupus sudah. Saya dan Tim bekerja pagi-sore, siang-malam. Pasien terus-terusan datang ke klinik mengingat jam kerja mereka dibagi menjadi tiga shift. Saya yang sangat takut drop karena kelelahan, akhirnya menjaga pola makan. Berbagai menu makanan yang disediakan untuk pegawai tambang pun ikut saya lahap. Mereka disediakan susu, saya ikut minum susu pagi-sore. Mereka disediakan telur rebus dan buah, saya ikut mengambilnya. Menu makanan selama disana, benar-benar menyehatkan. Pantas saja pegawai-pegawai pertambangan disini sehat-sehat.

Saya pun sehat, juga bertambah berat. Tiga hari terakhir, saya menyempatkan diri untuk lari pagi di sekitaran mess setelah shubuh. Namun tak ada perubahan yang terjadi di pipi dan paha saya. Hahaha :D


Ini saya dan baju dinas kebesaran :D

Iya, bukan bajunya aja yang kebesaran, orangnya juga :(

Bukan Agit namanya kalau hanya kerja dan kerja terus. Ketika yang lainnya sudah merasa bosan, saya mulai asik dengan dunia saya sendiri. Saya mulai berteman dengan langit Tanjung Enim, monyet-monyet di sekitaran mess, juga pemandangan hutan lebat di pinggiran area pertambangan. 

Hae Onye :3


Pisang Ngembat di Kantin

Langit dan Masjid

Senja di Anjungan

Siluet Pipa Raksasa


Kece!!!


Hari terakhir, kami diberi kesempatan untuk keluar area pertambangan. Sekedar beli oleh-oleh sampai batas waktu yang ditentukan, initinya tak boleh kemalaman. Kebetulan saat itu malam minggu. Suasana di kota tampak ramai. Teman-teman saya sibuk membeli oleh-oleh, sementara saya celingukan di pinggir jalan. Iya, kebetulan saya hanya membawa carrier dengan muatan 30 L selama dinas disini, padahal yang lainnya membawa koper-koper super besar. Dan carrier sudah terisi penuh. Saya malas membeli oleh-oleh dan berniatan membeli mpek-mpek di dekat rumah saja. Toh rasanya pun sama. Sempat saya mampir ke salah satu toko mpek-mpek, namun di dalamnya begitu amis dan ruangan tersebut penuh sesak dengan botol bir. Saya ketakutan sendiri kalau-kalau cara pembuatannya tak halal.

Terdengar bunyi petasan, saya berjalan ke arah sumber suara. Beberapa teman yang seumuran dengan saya akhirnya mengikuti kemana saya pergi. Mereka takut saya hilang. Tenanglah kawan, sekalipun hilang, saya tetap bisa pulang sendiri :D

Pandangan saya terpaku pada tiga buah patung yang berdiri di tengah-tengah taman bermain. Eh, bukan taman bermain, tapi inilah alun-alun kota. Anak-anak kecil di sini bilang namanya alun-alun muhammadiyah. Setelah diamati, ternyata ketiga patung ini merupakan simbol mata-pencaharian warga setempat. Patung yang tengah bertuliskan BKR (Badan Keamanan Rakyat), yang sebelah kanan adalah laskar rakyat (beruang hitam) yaitu para pekerja tambang, dan yang kiri adalah simbol dari perempuan.dan pendidikan. Kebetulan saat itu bulan purnama dan saya berhasil mendapat jepretan yang pas!


Patungnya kayak gini. (Sumber : Neutrons Blog)


Ini jepretan saya. Yah, walau agak sedikit blurrr..

Saya yang memang senang bermain dengan anak kecil, akhirnya ikut-ikutan menyalakan petasan dan kembang api. Tak lupa berfoto bersama.




Dan setelah sepuluh hari, akhirnya kami pulang. Ya, kami pulang melalui jalan darat dan menyeberangi selat sunda dengan kapal. Satu bis besar yang bermuatan lima puluh orang hanya diisi dengan tim kami yang berjumlah tigabelas orang. Kebayang nggak dinginnya kalo malem gimana? Yaudah, nggak usah dibayangin. Hahaha. Iya, pak Bos sengaja menyewa bis besar karena alat-alat kesehatan yang kami bawa dari Jakarta ukurannya besar-besar. Yah, begitulah. Walaupun badan capek pegel-pegel, tapi pemandangan sepanjang jalan pulang ngebayar semuanya :)




Ada yang bilang ini bukit telunjuk, ada juga yang bilang gunung jempol.

Antara Bakauheuni - Merak


***Foto-foto koleksi pribadi

Thursday, 17 October 2013

Lombok Tourism Place and the Sasak Tribe

-->

Lombok Island Tourism Map



Lombok is an island in West Nusa Tenggara Province, Indonesia. The northern part of the island is mountainous and lush with tall trees or  shrubs. The south, on the other hand is arid and covered by savannas. The difference becomes more pronounced as one moves further east, where dry seasons are more prolonged.

Situated on the western side of Lombok Island, the city of Mataram is the capital and largest city in the West Nusa Tenggara Province. Mataram is the center of the provincial government, education, commerce, industry and services. Public buildings, banks, post office, general hospitals, shopping malls, and hotels are found here, making it a perfect staging point before travelers explore the undiscovered splendors of Lombok Island.


Sasak Tribe



No many people know about this general area in the past. During 17th century, Dutch began to colonize this place. Sasak kingdom dominated this area until Balinese and Makasarrese attacked it. In the middle of 18th century, Balinese kingdom reigned this place. Dutch occupied this place in 19th century.

After Indonesian independence, Sasak people and Balinese dominate Lombok, but Javanese also can be found in West Nusa Tenggara. Arab, Bugis and Chinese also live in this area. Most of Sasak people are Muslim. They value modesty, meaning visitors should respect their belief. You should cover yourself appropriately, meaning going nude or topless is deemed inappropriate. Public display of affection should be limited and consumption of alcohol must be done moderately.


Nowadays, Sasak People still live like their ancestors, fishing or farming. Corn and sago are staple food, instead of rice. Sasak people enjoy spicy food such as Ayam Taliwang, Plecing Kangkung, Nasi Balap Puyung or Sayur Kelor. Ayam Taliwang is roasted chicken served with peanut, tomato chili and lime dip. Plecing Kangkung is stir-fry water spinach that made with chili, shrimp paste and tomato. Nasi Balap Puyung is rice with side dishes of spicy chicken and fried soy bean. And the last, sayur kelor is hot soup with kelor leaves.

Some of Sasak People is a weaver too. Sukerare and Sade village is the producent of woven fabric which is called Tenun Sasak or Songket Sasak. It is one of the uniqes traditional crafts from Lombok. Women in these village was indeed obliged to learn weaving. More uniquely, one of the conditions of the weavers in the village must be a girl or still virgin or unmarried women. So you could say, before getting married, the girl must be clever in weaving.

 
Tenun Sasak



Regulation for marriage in Sasak is called Merarik. So, if both of them like each other, don ' t have to wait long to get married. The boy must steal the girl, wait for one day and the girl’s parents will looking for her. After that they should be married. Filch the girl was more accepted their family.


And the last, the most popular in Lombok is the tourism places. Senggigi and Kuta Beach in Lombok is also famous for its beautiful, largely deserted, white sand beaches. Sekotong, in southwest Lombok, is popular for its numerous and diverse scuba diving locations. South Lombok surfing is considered some of the best in the world and includes Desert Point at Banko Banko in the southwest of the island. And the nothern, you can go to Gili Islands. They are Gili Trawangan, Gili Meno and Gili Air. But, if you like adventurer activity, you must try to climb and hike the Rinjani Mountain. Rinjani Mountain is the third highest Mountain in Indonesia with the top 3.726 meters above sea level. You can see a most beautiful landscape like a paradise. Trekking up Rinjani Mountain is a test of endurance but you’ll be rewarded with spectacular views of volcanic landscapes, sulfur lakes and waterfalls and other magnificent scenery along the way. Once you’ve climbed the mountain, there are still many wonders left to explore in the Rinjani Mountain National Park.


Kuta Beach, Lombok

Rinjani Mountain
 



*all photos are from google.co.id :)

Thursday, 6 June 2013

Mengintip Wajah Indonesia dari Yogyakarta



"Hi, where do you come from?"

"Hi, I come from Indonesia."

"Indonesia? Where Is it?"

"Do you know Bali?"

"Yes, I know Bali. Is it near from Indonesia?"

"No. Bali is a part of Indonesia. Bali is city, and Indonesia is the country"

Percakapan diatas sudah terlalu sering di ceritakan oleh sahabat-sahabat saya yang pernah bepergian ke luar negeri. Dan kesimpulannya adalah, Indonesia belum se-tersohor Bali.

Agak miris mendengarnya, terlebih lagi Indonesia memiliki beragam potensi wisata yang lebih indah dari Bali. Sebut saja Pulau Weh di Aceh, Derawan dari Kalimantan, Losari milik Sulawesi hingga Raja Ampat di Papua yang merupakan impian para traveller dan backpacker domestik hingga mancanegara. Masih banyak destinasi wisata di Indonesia selain yang disebut tadi. Baik wisata budaya, wisata sejarah, wisata alam, wisata buatan hingga wisata reliji. Indonesia memang kaya.

Kembali ke judul tulisan saya...
Mengintip wajah Indonesia dari Yogyakarta. Mengapa Yogyakarta?

Indonesia terkenal dengan penduduknya yang ramah, adat dan budaya yang beragam serta pusat perbelanjaan yang murah. Yogyakarta memiliki semuanya. Dari Malioboro dan Beringharjo yang murah meriah, Gunung Merapi yang berdiri dengan gagah, hinggan pantai-pantai di selatan yang masih perawan dan tak terjamah. Mari kita mulai perjalanan dari tugu nol kilometer Yogyakarta.


Tugu nol kilometer Yogyakarta menjadi tanda bahwa Kota tersebut tersusun dalam satu garis lurus yang terhubung dari Gunung Merapi - Tugu - Keraton - Laut Selatan. Konon, dengan landmark seperti itu memudahkan para pemimpin terdahulu memantau daerah kekuasaan dan aktivitas warganya. Dari keraton akan nampak Gunung Merapi dan arah sebaliknya akan terlihat Laut Selatan. Unik bukan?

Bicara tentang Gunung Merapi, Gunung Api yang berbentuk kerucut ini masih aktif hingga sekarang dan memiliki daya tarik dalam segi penelitian, pendidikan hingga pariwisata. Setelah meletus terakhir kalinya tiga tahun lalu dan memakan banyak korban jiwa, masyarakat setempat tak kehabisan akal dalam mengolah potensi wisatanya. Saat ini telah tersedia jeep-jeep khusus wisata Merapi hingga tour-guide. Dan bagi Komunitas Pecinta Alam dapat merasakan sensasi mendaki gunung dengan jenis bebatuan ini sampai ke Puncak Garuda yang ketinggiannya mencapai 2.968 meter diatas permukaan laut. Berfoto bersama awan dan bendera Merah Putih serta memandang Kota Yogyakarta hingga garis-garis pantainya. Menakjubkan.



Setelah turun dari Gunung Merapi, perjalanan dapat dilanjutkan ke kawasan Gunungkidul. Gunungkidul memiliki dua buah potensi wisata yaitu pantai dan goa. Wisatawan dapat menjelajah goa seperti Goa Jomblang dan Goa Pindul. Namun saya lebih menyarankan untuk menelusuri pantai di kawasan Gunungkidul ini. Dalam satu hari penuh pun tak akan cukup untuk mampir ke setiap pantainya!

Ada lebih dari sepuluh pantai di kawasan Gunungkidul. Sebut saja Pantai Baron, Pantai Krakal, Pantai Sundak, Pantai Kukup, Pantai Indrayanti, Pantai Drini, Pantai Pok Tunggal, Panta Seruni dan masih banyak lagi hingga entah dimana ujungnya. Perjalanan menuju pantai-pantai tersebut harus melewati bukit demi bukit terlebih dahulu. Bayangkan saja, dibalik bukit ada hamparan pasir putih yang menawan lengkap dengan birunya laut dan tebing-tebing tinggi. Jika bosan bermain di pasir dan berenang di laut, kita dapat memanjat tebing-tebing tersebut sampai ke puncaknya, kemudian berteriak sambil menatap samudera. Indonesia, I Love Youuuuuuuuuu!!!



Pulang dari gunung dan pantai, jangan lupa mampir ke pasar tradisional, keraton serta alun-alun dan beringin kembar. Tak ada habisnya jika bicara Yogyakarta, apalagi Indonesia. Indonesia memiliki wajah dan cerita yang beragam untuk dibahas, sementara Yogyakarta hanyalah sebuah pandangan saya terhadap Indonesia dengan cara melihatnya dengan celah yang sempit atau biasa disebut "mengintip".




Mengintip Indonesia melalui Yogyakarta saja sudah begitu menarik dan memukau. Bagaimana bila membuka mata dan melihat Indonesia secara langsung? Kembali saya ulangi, Indonesia tak hanya seindah Bali dan seramah Yogyakarta. Ada Pulau Weh di Aceh, Derawan dari Kalimantan, Losari milik Sulawesi, Wamena, Raja Ampat dan Jelajah Bumi Papua. Aaaaah, Let's Visit Wonderful Indonesia!











Untuk info lengkap kunjungi http://jelajahbumipapua.com/home.php

Tuesday, 4 December 2012

[EnjoyJakarta] Taman Menteng, Melepas Penat Setelah Bekerja

Siapa bilang Jakarta tak punya taman?
Siapa bilang Jakarta cuma punya mall dan perumahan?
Siapa bilang di Jakarta cuma ada jalan tol dan kemacetan?


For Your Info, Guys. Jakarta memiliki sejumlah taman di beberapa lokasi. Sebut saja Taman Menteng, Taman Suropati, Taman Dharmawangsa, Taman Kodok, Taman Monas, Taman Prasasti, Taman Barito, Taman Puring, Taman Lawang dan sebagainya. Adapula Taman Kalibata (kalau ini, taman makam pahlawan :p) atau Taman Jeruk Purut? Itu tempat pemakaman umum :D . Oke, pada kesempatan kali ini saya akan membahas Taman Menteng as The Famous Park in Jakarta.


Taman Menteng




Taman ini terletak di Jl. HOS Cokroaminoto. Dulunya Taman Menteng merupakan Stadion Menteng yang dibangun oleh arsitek Belanda pada tahun 1921 dan memiliki kapasitas 10.000 penonton. Namun pada tahun 2004 Gubernur DKI Sutiyoso berencana mengubah fungsi Stadion menjadi sebuah taman. Sekitar bulan September 2004, Dinas Pertamanan DKI Jakarta membuka sayembara desain Taman Menteng sebagai ruang terbuka publik yang serbaguna. Dan akhirnya pada tanggal 28 April 2007, taman ini diresmikan dengan kategori taman publik yang memiliki fasilitas olahraga seperti lapangan basket dan futsal, terdapat pula 44 sumur resapan, arena bermain untuk anak, kolam ikan dan air mancur serta lahan parkir. Kemudian juga tersedia dua buah rumah kaca yang dapat dijadikan lokasi untuk pemeran lukisan, seni dan budaya.

Hampir setiap hari taman ini ramai pengunjung, terutama malam hari dan minggu pagi. Selain sebagai sarana olahraga dan rekreasi, taman ini juga memiliki sebuah tempat yang disediakan khusus untuk mengisi stok amunisi. Apalagi kalau bukan kuliner? Beberapa gerobak dan meja-meja disusun rapi dengan desain berwarna merah untuk menarik perhatian pengunjung. Harga makanan disini relatif murah. Beberapa menu yang disajikan diantaranya nasi goreng, sate madura, sate padang, lontong sayur, kerak telor, snack-snack ringan dan sebagainya. Bosan dengan makanan kaki lima? Punya kantong lebih tebal? Tenang, tepat didepan Taman Menteng saat ini juga telah berdiri restoran Sate Khas Senayan dan 7Eleven. Namun untuk anak kost seperti saya, nongkrong di Taman Menteng hanya sekedar menikmati kopi hitam keliling seharga tigaribu rupiah pun sudah cukup.

Kopi keliling?
Ya! Tukang Kopi di kawasan Menteng memiliki cara sendiri untuk menjajakan barang dagangannya. Mereka bersepeda keliling taman untuk menarik pelanggan. Tak hanya kopi yang tersedia di sepedanya, ada pula susu, teh dan minuman instan dengan berbagai merek. Dan menurut hasil penelusuran saya, sebagian besar tukang kopi keliling yang berjualan disini berasal dari Madura. Tak percaya? Tanyakan saja :p

Dibagian depan Taman Menteng memiliki beberapa air mancur yang dihiasi lampu berwarna-warni. Namun letak air mancur ini tidak berada di kolam, melainkan diantara bebatuan yang berperan sebagai conblock. Air mancur ini akan semakin indah bila dilihat pada malam hari. Biasanya didekat air mancur ini berseliweran beberapa komuntitas sepeda yang sedang berkumpul. Jakarta semakin terlihat warna-warni.

Akses menuju Taman Menteng tidaklah sulit, pilih saja jalan dari kuningan menuju senen/monas. Lokasinya tak begitu jauh dari stasiun Gondangdia, Cikini atau Taman Ismail Marzuki. Apabila menggunakan kendaraan umum, bisa dengan Kopaja P20 Jurusan Senen - Lebak Bulus via Kuningan - Mampang. Kalau tak ingin ribet, bisa naik taksi. Tak ingin ribet namun murah? Naik bajaj saja :)

Dan belum beberapa lama, tepatnya sebelum PilGub DKI 2012 dilaksanakan, tim sukses kotak-kotak Jokowi-Ahok seringkali mengadakan perkumpulan disini. Entah membahas strategi, rapat umum atau sekedar menggelar tikar dan kopi bersama. Mereka terlihat enjoy menikmati suasana malam Jakarta ditengah-tengah keramaian Taman Menteng yang tak pernah tidur. Hampir 24 jam taman ini selalu ramai. Seringkali di Minggu pagi, Pakdhe Jokowi dan rekan-rekannya berolahraga di kawasan ini. Menarik sekali bukan? Enjoy Jakarta! Waktunya Lupa Waktu!


Rumah Kaca - untuk pameran lukisan dan karya seni


Komunitas Sepeda



Tukang Kopi Keliling dan Air Mancur

Air Mancur di Malam Hari








Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba Blog yang diadakan oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta bekerja sama dengan VIVA.co.id dengan tema "Enjoy Jakarta, WAKTUNYA LUPA WAKTU".


Monday, 12 November 2012

Daihatsu dan Kopi, Sahabat Petualang Sejati

Jika mendengar sebuah kata; Kopi, apa yang terlintas di benak Sahabat Petualang sekalian?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, kopi adalah pohon yg banyak ditanam di Asia; Amerika latin, dan Afrika, kemudian  buahnya digoreng dan ditumbuk halus-halus dijadikan bahan pencampuran minuman. Sementara menurut saya, kopi adalah nikmat Tuhan yang tersebar di seluruh dunia, terutama Indonesia. Kopi merupakan lambang persahabatan, lebih tepatnya sebagai sahabat petualang sejati. Se-meriah apapun acara kumpul-kumpul, belum lengkap kalau belum ada kopi, bukan? Terlebih lagi untuk para pendaki dan peserta camping, acara api unggun pun belum terasa hangat jika belum mencicipi kopi khas daerah masing-masing. Setuju?

Bicara tentang kopi, Pemerintah menyebut Indonesia berpeluang menjadi produsen kedua terbesar di dunia. Daerah penghasil kopi yang paling terkenal di Indonesia terletak di Lampung. Namun ternyata tak hanya di Lampung saja, bakan produsen kopi tersebar luas disepanjang Pulau Sumatera. Selain keindahan alam yang terbentang dari Sabang sampai Bakauheuni, ternyata Sumatera juga merupakan surganya kopi di Indonesia. Sumatera as The Coffee Paradise. Dari kopi Lampung, kopi Luwak, kopi khas Mandailing, kopi Aceh beraroma Arabika dan segala macam kopi ada disini!

Hal ini pula yang menjadikan Pulau Sumatera sebagai target petualangan tim jurnalis beserta Daihatsu Terios 7-Wonders. Dengan mengendarai 3 unit Daihatsu Terios Hi-Grade Type TX AT dan TX MT, tim jurnalis beserta tim Daihatsu siap menjelajah dan mengeksplorasi keindahan alam Indonesia yang dimulai dari Pulau Sumatera. Perjalanan ini merupakan sebuah penggambaran brand Terios sebagai "Sahabat Petualang" sejati.

Dalam blog dan website resminya, tim jurnalis menceritakan perjalanan mereka bersama tim Daihatsu yang dimulai pada tanggal 10 Oktober 2012. Setelah melintasi perjalanan laut dari Merak ke Bakauheuni selama 3 jam, tim segera melaju dengan Daihatsu Terios 7-Wonders menuju ke kota Lampung. Kemudian bergerak menuju Liwa dan mencicipi kopi luwak khas Liwa. Inilah kenikmatan kekayaan kopi Indonesia yang pertama kali dikecap oleh tim. Secangkir kopi panas berikut kudapan pagi, merupakan penyemangat  tim Terios 7-Wonders untuk melanjutkan petualangannya, mengeksplorasi penangkaran Luwak serta menghirup aroma kopi dari perkebunan kopi yang terletak tidak jauh dari Danau Ranau.

Selama perjalanan, tim Terios7-Wonders akan mengunjungi 7 spot kopi yang terkenal di Sumatera. Dalam perjalanan SUV 7-Seater Terios, akan teruji ketangguhannya di medan yang menyuguhkan karakter jalan yang bervariasi. Namun berkat ground clereance yang tinggi disertai dengan performa mesin 3SZ-VE DOHC VVT-I 1.495cc, kenyamanan berkendara pun dapat diraih. Begitu pula dengan kenyamanan didalam kabin. Steering wheels with audio switch, menjadi salah satu fitur penunjang kenyamanan selama berkendara.


Melaju di jalanan lurus nan halus, melahap tanjakkan terjal, berkelok-kelok dijalur yang sempit dan licin, melintasi gunung dan sungai, dari kota hingga desa, sampai-samapai dihadang hujan lebat, tim Terios 7-Wonders tak kenal lelah untuk menaklukan Sumatera as The Coffee Paradise. Bergerak dari Lampung - Liwa - PagarAlam, kemudian menempuh rute Bengkulu – Bukittinggi melalui Padang, serta rute Mandailing Natal – Medan –Tarutung sampai akhirnya di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 3 unit Daihatsu Terios Hi-Grade Type TX AT dan TX MT berhasil menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 15 hari! Benar-benar layak disebut sebagai “Mobil Sahabat Petualang” , bukan?

Gelar sahabat petualang sejati tak hanya diberikan kepada kopi saja, Daihatsu Terios 7 pun layak mendapatkannya. Tunggu apalagi, segera miliki Daihatsu Terios 7 dan jelajahi keindahan alam Indonesia beserta berbagai macam kopi daerah yang terkenal sampai ke mancanegara! 


Bagi Sahabat Petualang sekalian, kamu juga bisa berpartisipasi dalam Kontes Blog yang diadakan oleh Daihatsu Terios 7. Bermacam hadiah menarik siap dibagikan buat kamu yang beruntung. Check This Out :)











Sumber : Kontes Blog Detik , Daihatsu Terios , KBBI Online
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...