Showing posts with label Mountaineering. Show all posts
Showing posts with label Mountaineering. Show all posts

Monday, 2 May 2016

Tahun Ketiga Bekasi Summiter di Bukit Golf Cibodas

Tahun Ketiga Bekasi Summiter di Bukit Golf Cibodas

Bekasi Summiter. Adalah sebuah wadah yang dibentuk untuk menaungi komunitas pendaki gunung dan pegiat alam bebas di Bekasi dan sekitarnya. Wadah ini sengaja dibentuk untuk ajang silaturahmi antar komunitas dengan ngopi-ngopi di Alun-alun Bekasi, membuat berbagai kegiatan bergengsi, dan sebagainya.

Saya sendiri sudah 3 tahun bergabung dengan mereka, dan 9 November 2015 lalu merupakan hari jadi Bekasi Summiter yang ke-3. Iya, bukannya saya malas nulis, Cuma baru sempat saja. Hehehe.

Apabila di Milad Bekasi Summiter yang pertama kami merayakannya di Papandayan, dan Milad kedua dirayakan di Jogjakarta bersamaan dengan Kopdar #InfoGunung, kali ini panitia Milad Bekasi Summiter yang ketiga memilih Bukit Golf Cibodas sebagai tempat perayaan, sekaligus mengenang memori selama tiga generasi. Kami berangkat Jum’at malam dan pulang di Minggu sorenya. Puas sekali, bukan?

Nah, berikut kegiatan yang kami lakukan saat Anniversary Bekasi Summiter di Bukit Golf Cibodas;

Friday, 25 September 2015

Oleh-oleh dari Gunung Api Purba Nglanggeran

Oleh-oleh dari Gunung Api Purba Nglanggeran

Ada salah satu alasan mengapa Jogja tak pernah terasa membosankan. Kotanya yang ramah, pantai selatannya yang memecah ombak, hingga barisan gunung-gunungnya yang seperti memanggil-manggil untuk didaki. Bagi saya, Jogja tidak akan pernah habis untuk dijelajahi. Apalagi hanya dalam waktu empat hari seperti liburan saya bersama Webpraktis ini.

Ketika orang-orang berlomba untuk mendaki Puncak Merapi, ataupun sekadar selfie di Sabana Merbabu, kali ini saya tak berminat sama sekali. Menapakkan kaki di Jogjakarta saja sudah bikin menyayat hati, apalagi kalau harus ditambah mendaki kedua gunung tadi yang penuh akan memori?

***

Sunday, 7 June 2015

Kebodohan di Situ Gunung


Posisi yang sudah di Bogor usai berbagi inspirasi ke adik-adik Smart Ekselensia tidak membuat saya dan Hanis langsung pulang ke Bekasi begitu saja. Kami lantas melanjutkan perjalanan ke Sukabumi dengan menggunakan Kereta Pangrango yang kebetulan hanya seharga duapuluh lima ribu rupiah. Pemandangan di sepanjang rel yang baru aktif kembali ini menyuguhkan hamparan sawah dan ladang hijau. Arus sungai yang amat deras juga menemani perjalanan yang memakan waktu dua jam ini.

Wednesday, 29 April 2015

Kejutan Saat Kembali Pulang

Cerita sebelumnya klik di sini :)


Jebol
Berbekal internet dengan kuota terbatas, akhirnya saya mulai hunting tiket. Saat itu tinggal tersedia tiket kereta yang keberangkatannya dari Jogja untuk esok hari pukul sepuluh pagi. Sementara saya dan yang lainnya masih di Probolinggo dengan waktu yang telah menunjukkan pukul delapan malam. Bermodalkan uang pinjaman dari Bang Cehu, akhirnya saya dan Hanis memesan tiket kereta Bogowonto tujuan Jakarta. Sementara uang yang harusnya digunakan untuk lanjut perjalanan ke Ijen dan Baluran hanya mendekam di dalam dompet untuk jaga-jaga selama di perjalanan pulang.

Guys, sorry.. Do you know... Where is the hotel or homestay near this place?” Tiba-tiba dua orang Bule menghampiri kami yang masih berkutat di meja makan. Malas meladeni, saya dan Bang Cehu meluncur ke ATM terdekat untuk melakukan transaksi pembayaran. Sementara si Opin sibuk meladeni Bule dengan keminggrisan yang belepotan.

“Kita pulang sekarang.” Ujar saya kepada Hanis yang masih menunduk sambil mengaduk-aduk isi gelas yang tinggal tersisa es batunya saja.

“Tiket gimana?” Tanyanya sambil menoleh lesu.

Saturday, 25 April 2015

Melepas Lelah di Danau Taman Hidup

Cerita sebelumnya klik di sini :)

Pendakian gunung argopuro
Ekki Lelah

"Jalan masih teramat jauh.."

"Mustahil berlabuh bila dayung tak terkayuh."

Saya dan Ekki mulai bersenandung lagu Iwan Fals. Merasa bahwa hutan lumut benar-benar tak ada ujungnya. Bahkan Hanis sempat-sempatnya berpikir kalau kami tak dapat keluar dari labirin raksasa ini sebelum hari terang.

BRUKKK

Hanis terpeleset di trek menurun. Ia yang berusaha menahan carrier 75 liter justru membuat kakinya terkilir. Ia menyerah. Baru kali ini saya melihatnya sefrustasi ini.

Wednesday, 22 April 2015

Argopuro: Siang Parno Macan, Malam Parno Setan

Cerita sebelumnya klik di sini :)


Pendakian Gunung Argopuro
Berkemas

Saya merasakan tidur sangat pulas setelah muncak semalam. Sampai nggak bangun-bangun dan tau-tau udah pagi aja. Malas mengingat kejadian ambruk semalam, akhirnya saya duduk di sebelah Hanis yang sudah bangun duluan. 

“Selamat dua puluh tahun, Acita.” Ujarnya sambil menggenggam tangan saya. Iya, di rumah, saya dipanggil Acita.

“Makasih..” 

“Semoga makin dewasa, nggak kayak bocah lagi, nurut sama ibu, cepet lulus kuliah, dapet kerjaan yang enak, bahagia terus...” Tanpa terasa air mata saya telah menggenang. Mendadak kangen ibu. Saya langsung memeluk Hanis yang masih sibuk ngoceh mendoakan saya dengan pesan-pesan baik dan kata-kata mutiara. “Kok nangis...” Lanjutnya.

“Kangen ibu. Huhuhu.” Jawab saya terisak. 

“Lagian sih, ulang tahun malah kabur.”

“Iya tahun depan nggak kabur lagi...” Saya mengatakan janji palsu. 

“Heeeh, ini ngapa anak orang lu bikin nangis?” Acrut tiba-tiba bangun dan teriak-teriak. Nggak rela kalo saya dibikin nangis sama Hanis. Kami sontak cengengesan menatap Acrut yang kerudungnya berantakan.

“Gue kan ultah, Crut.. Hehehe.” 

“Waaa, selamat ulang tahun, bocaaaah.”

Pagi yang damai di Cisentor. Ditemani gemercik aliran sungai dan kicauan burung yang saling bersahutan, angin menyampaikan doa ibu untuk saya; yang membuat saya ingin pulang segera.

Saturday, 18 April 2015

Pahit Manis Menuju Puncak Rengganis


Cerita sebelumnya klik di sini :)

Dari Cisentor menuju Puncak Argopuro
Menuju Cisentor

"Aaaah, rasanya berat ninggalin Cikasur." Saya mengerang sambil melintasi padang rumput yang entah di mana ujungnya.

"Sama. Kita nggak boleh semalem lagi, ya, di sana?" Sahut yang lainnya.

"Iiiish, lu mah pada nggak kasian sama gue. Kan gue mau ngejar ujian." Sanggah Acrut kemudian.

"Aaah, elu mah ujian mulu, Crut. Ujian hidup aja nggak kelar-kelar." Celetuk saya dengan suara agak keras. Yang lainnya tertawa. Kemudian berjalan dengan ritme masing-masing sambil menikmati semilir angin yang semakin sejuk. Namun tiba-tiba, seperti terdengar suara auman entah dari mana. Seketika rumput dan tanah di hadapan saya bergetar. Saya berhenti sejenak, kemudian Hanis memberi kode agar tidak panik dan tetap berjalan.

Itu pasti suara meong. Batin saya sambil sok tenang.

Wednesday, 15 April 2015

Sepenggal Cerita dari Cikasur

Cerita sebelumnya klik di sini :)

Catatan pendakian Argopuro
Pohon Afrika dan Ojek Cikasur

Saya terbangun karena bunyi alarm Hanis yang semakin kencang. Sementara yang lainnya belum ada yang bergerak, masih pada mengkerut di sleeping bag masing-masing. Setelah ngulet dan membunyikan semua tulang, saya menyadari kalau semalaman saya tidur mepet ke Hanis. Hanis sampai bikin tendanya doyong. Begitu pula dengan Opin di sisi pojok satunya, tidur mepet tenda sampai-sampai inner tenda menempel dengan outernya.

Saya duduk, Hanis juga duduk. Opin yang latah juga ikut-ikutan duduk sambil menggaruk kepala. Pandangan kami tertuju pada orang yang tidurnya kayak huruf Wau dalam Hijaiyah. Sadar akan terlalu lama dipandang, Acrut akhirnya terbangun.

"Lu ngapain pada ngeliatin gue?" Tanya dia bingung sambil membetulkan kerudung."

Saturday, 11 April 2015

Perjalanan Panjang Menuju Cikasur

Cerita sebelumnya klik di ~> sini :)


Pagi hari di Pos Mata Air Satu sukses bikin saya nahan pipis sampai agak terang. Semacam ngeri ada yang ngikutin lagi, sampai-sampai saya ngelepehin bawang putih yang habis saya kunyah di tanah bekas saya pipis. Iya, segitunya. Tapi kan, lebih baik mencegah daripada 'ketemu' lagi.

Untunglah si Acrut orangnya rajin, ia mengajak saya menyiapkan sarapan. Segala jenis ketakutan akan setan segera sirna seiring datangnya mentari. Menu sarapan pagi itu berupa sosis goreng dan sayur sop. Sementara bakwan jagung kami siapkan untuk bekal di perjalanan menuju Cikasur.

"Bro, tembakau mana bro?" Tanya Bang Nana sambil mondar-mandir bawa golok. Gayanya udah kayak mandor tanah.

"Ni, bro. Ngelinting sendiri, ya." Ujar Sehu sambil melemparkan bungkusan tembakau. Yang cowok-cowok sibuk ngerokok sambil nunggu masakan matang. Itu juga disambi packing karena rombongan lain sudah mulai jalan.

Masakan matang. Usai sarapan, kami berkemas dan lagi-lagi menjadi pendaki terakhir yang meninggalkan camp.

Dan saya berdoa agar tidak bertemu 'apa-apa' lagi.

Wednesday, 8 April 2015

Pos Mata Air Satu yang Mencekam

Cerita sebelumnya klik di ~> sini :)

Lovieisme \m/


"Pak, kita pamit ya, pak.." Ujar kami sambil bersalaman dengan si Bapak penjaga basecamp Baderan. Saat itu kami naik bertepatan dengan hari Senin, kebayang deh sepinya ni gunung kayak apa. Hari libur aja sepi, apalagi hari kerja. Tapi beruntung ada dua tim dari Jakarta yang sudah naik duluan. Saya merasa tertampar ketika melihat adik-adik berseragam merah putih ini dengan semangatnya baris-berbaris mengikuti upacara. Sementara saya malah bolos kerja.

Saturday, 4 April 2015

Kembali ke Jawa Timur

Cerita sebelumnya klik di ~> sini :)

Siap tempur.


Kembali ke Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Sebuah stasiun yang dulunya hanyalah tempat untuk menanti kereta, namun kini berubah fungsi menjadi tempat menunggu kepastian. Kepastian bahwa ia tidak akan datang lagi.

Kembali ke Stasiun Pasar Turi, Surabaya, teman-teman saya sibuk memesan tiket pulang, beberapa sibuk membeli pulsa. Adapula yang sibuk ngunya brownies yang sengaja dibawa Acrut jauh-jauh dari Jakarta. Sementara saya ketemuan dengan customer t-shirt yang saya jual. Hebat ya service saya, domisili di Bekasi tapi bisa COD-an sampai Surabaya.

Terasa enggan berlama-lama di Stasiun Pasar Turi, Surabaya, akhirnya saya menyeret rombongan agar lekas pindah lokasi. Agar path location saya tak lagi di Surabaya. Agar ia yang di Surabaya nggak tahu kalau saya sedang berada di kotanya.

Wednesday, 1 April 2015

Argopuro Birthday Hiking - The Series

Dua puluh tahun di Rengganis


Tanpa persiapan yang matang, tanpa rencana dari jauh-jauh hari, tanpa orang-orang serius. Petualangan ini berjalan begitu saja hanya dengan satu tujuan; nomor telfon saya tidak bisa dihubungi ketika saya ulangtahun.

Iya, saya memang aneh. Tiap ulangtahun selalu ngilang. Bagi saya, ulangtahun adalah ritual antara saya dengan Tuhan. Bukan dengan orang-orang yang sibuk merengek traktiran atau iseng mengerjai saya hingga menangis. Tidak seperti itu. Maka petualangan ini pun dimulai. Total kelompok adalah tujuh orang, dengan estimasi waktu pendakian selama tujuh hari. Orang-orang yang menemani saya ke Argopuro ini nggak punya tujuan khusus seperti saya. Mereka cuma ngikut aja, itung-itung menghabiskan libur lebaran.

Kenapa Argopuro?

Saturday, 28 March 2015

Bertemu Lagi

Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. - Dee, Rectoverso.

Ia mendahului saya untuk ke-sekian kali. Entah merasa bosan karena langkah saya yang begitu lamban, atau memang tak peduli dan lebih memilih meninggalkan saya. Entah. Saya hanya suka memandanginya seperti ini. Melihatnya dari jarak sekian meter, mengamati tingkahnya ketika berjalan, atau sekadar terkikik geli ketika ia yang kadang ceroboh ini tersandung bebatuan.

Saturday, 14 March 2015

Tidur 24 Jam di Papandayan



Awal November lalu bertepatan dengan gajian pertama saya di kantor baru. Alih-alih merayakan gaji pertama dengan makan-makan, saya justru langsung mengepack peralatan mendaki dan kamera. Saat itu peralatan seperti tenda, kompor dan nesting sedang tersebar di teman-teman yang mungkin lupa mengembalikan. Beruntung saya memiliki teman seorang rental gear, jadilah saya meminjam kepadanya.

Satu buah tenda kapasitas two person, kompor gas dan nesting telah terpacking rapi di carrier milik Hanis. Malam itu, ia sedang tidak enak badan. Namun tidak tega melihat saya yang kebelet naik gunung. Harusnya ada seorang teman lagi yang menemani kami, namun ternyata teman kami ini pemberi harapan palsu. Huft. Cedih.

Logistik yang kami beli pun seadanya. Hanya roti tawar, kornet, bakso, mie telor dan puding. Berikut sambal terasi dan bumbu dapur lainnya. Kami sengaja tidak membawa beras karena tak ada satupun dari kami yang bisa memasak nasi. Biasanya, kalau tidak jadi bubur, ya jadi rengginang.

Waktu telah menunjukan pukul sepuluh malam. Bus ke Garut dari Bekasi sudah pasti tidak ada. Berangkat dari terminal Kampung Rambutan pun rasanya tak mungkin dikarenakan sudah tidak ada lagi Mayasari Bhakti dari Bekasi yang berangkat selarut itu. Akhirnya, dengan diantar seorang teman si rental gear tadi, kami tiba di Cibitung pukul sebelas malam, dengan niatan ke Garut menggunakan truk sayur.

What? Truk sayur?

Sunday, 8 February 2015

#SambilJalan, Sambil Berbagi di Hutan

Piknik kali ini saya diundang oleh teman-teman dari Bandung sebagai pembicara untuk workshop menulis. Mereka menamakan acaranya #SambilJalan Vol.2. Lokasinya di Kawasan Konservasi Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi yang termasuk di area tiga kabupaten yaitu Bandung, Garut dan Sumedang. Katanya, sih, hutan ini biasa dipakai teman-teman Wanadri atau yang lagi pada diklat gitu. Wah, berarti saya telat dong, baru tau ada tempat se-keren ini.

Dari pintu masuk hutan, kami hanya cukup berjalan sepuluh menit hingga campground. Nggak perlu pakai ngos-ngosan karena trek-nya cukup ramah dan mudah dilalui. Sesampainya di campground, kami mendapatkan kabar baik kalau rumah pohon boleh ditempati. Secara gratis tanpa biaya tambahan. Padahal untuk mengikuti acara ini hanya dikenakan biaya Rp 150.000,- per orang. Sementara untuk sewa rumah pohonnya sendiri bisa 1,5 juta, loh. Betapa beruntungnya kami saat itu.

Kawasan Kareumbi

Acara pertama setelah makan siang adalah Materi Berkegiatan di Alam Terbuka oleh Kang Nurhuda, yang merupakan seorang 7 summiter dunia. Ia bercerita tentang apa saja yang diperlukan ketika main di gunung atau hutan, berikut resiko-resiko apa saja yang mungkin terjadi di alam bebas. Para peserta yang dibatasi hanya 30 orang ini nampak antusias mendengarkan materi yang disampaikan. Sosok Kang Huda yang ramah dan sering ngebanyol membuat peserta tak sungkan untuk bertanya maupun mengemukakan pendapatnya.

Hari semakin sore. Khawatir akan hujan, maka Kang Huda menutup sharing-nya. Acara dilanjut dengan Biotrek, yaitu trekking ke hutan dan mengenal botani di sekitar. Materi disampaikan oleh Pak Juandi, seorang Kurator Tanaman yang dari helai-helai uban di rambutnya menunjukkan bahwa beliau sudah sepuh, namun tegap badan dan semangatnya mengalahkan kami yang sudah terlihat loyo.

Sunday, 4 May 2014

Cibodas dan Hujan di Malam Hari

Saya sendiri bingung kenapa dari kemarin ceritanya sepotong-sepotong. Bukan karena hati saya yang tinggal sepotong, tapi... ah, sudahlah. Jadi gini ceritanya, habis turun dari Puncak Gede di acara Fun Hiking Education kemarin, saya melalui jalur Cibodas sebagai trek turun. Kandang Badak masih basah seperti biasanya. Ndak papa, asal bukan pelupuk mata aja yang basah :" #halah *toyor Agit*

Di sepanjang trek turun, saya diguyur hujan. Saya juga sempat ngedrop karena lupa makan dan belum tidur sore. Jadilah menjelang maghrib saya beristirahat cukup lama dan bersandar pada sebatang pohon. Niatnya hanya memejamkan mata barang sebentar, namun apa daya, saya malah ketiduran. Untung saja Hanis siap sedia menemani saya. Sementara anak-anak sudah duluan turun ke Basecamp.

Saya dan Hanis turun kemalaman, sekaligus kehujanan. Aura mistis mulai mengiringi langkah kami berdua.

"Kok carrier aku berat,  ya?" Tanya Hanis sambil  membetulkan posisi carrier yang digendongnya. Sementara saya hanya bisa memberi cengiran lebar dan tak mampu mengatakan apa yang saya lihat di sebelah Hanis. Heu [--,]>

"Mungkin karena air hujan, tasnya jadi berat. Pakai payung, gih." Jawab saya menenangkan. Saat itu Hanis hanya mengenakan selembar kaos tipis dengan logo Fun Hiking Education dan saya khawatir dia akan kedinginan jika terus seperti itu. 

"Kamu cuma pakai jaket aja? Nggak pakai Raincoat?" Tanya Hanis sambil membuka payung. Ia heran melihat saya dengan santai menerobos hujan.

Saturday, 3 May 2014

Giraffe Journey 3; Antara Gunung Gede dan Merapi

Ketika saya sedang sibuk dengan Event Fun Hiking Education di Gunung Gede, pada tanggal yang sama, Asti sedang melangkahkan kakinya ke Gunung Merapi. Kami terpisah ratusan kilometer, namun raga tetap berada di tempat yang sama, di atas awan.

Sebenarnya, saya malas ke Gunung Gede. Begitu pula Asti, ia pun malas jauh-jauh ke Merapi. Banyak faktor yang membuat kami berdua malas melangkah ke ketinggian. Banyak alasan betapa naik gunung bersama banyak orang sungguh tidak mengenakkan. Kami hanya ingin mencari pelarian berdua. Bukan dengan dia dan dia yang lain.

Berlari sungguh melelahkan. 
Apalagi jika kau berlari hanya untuk menghindari sebuah rasa takut.
Takut untuk jatuh cinta.

Karena naik gunung berhari-hari dengan lawan jenis, sangat sulit menolak hadirnya benih-benih cinta. Dan yang paling menyebalkan, ketika cinta yang kau percaya sebagai tujuan akhir, ternyata hanyalah sebuah tempat singgah. Sekedar numpang lewat. Turun gunung? Usai sudah. Ah, cinta yang datang terburu-buru, biasanya akan berakhir dengan cepat. Seperti yang sudah-sudah.

Mari kesampingkan dulu masalah pelarian dan cinta-cintaan. 

*hela nafas panjang*

Perjalanan dari Surya Kencana ke Puncak Gunung Gede adalah perjalanan yang paling 'sendiri' untuk saya. Saat itu saya diberi tugas mendampingi tiga orang anak yaitu Amelia Poki-poki, Dila dan Bungsu. Seperti biasa, pikiran saya entah berlarian kemana. Anak-anak saya pun sudah bisa dilepas bahkan mendahului saya menuju ke puncak. Dalam hati saya membatin, "Kak Ast, apa kabar? Trekking ada yang nemenin, kan? Minum ada yang bawain, kan? Muncak nggak sendirian, kan?"

Tidak lama untuk mencapai puncak, sekitar 1 - 2 jam. Dan sesampainya di atas, hujan turun deras. Beberapa peserta tumbang sehingga memaksa pendakian dengan jumlah 57 orang ini harus dihentikan. Saya sendiri tidak bisa berbuat dan membantu lebih banyak. Saya merasa kedinginan. Syukurlah saya memiliki partner paling pengertian yang menyodorkan segelas susu hangat. Tapi sayang, ia ndak sekalian menyewakan jasa peluk.

Cukup lama kami terhenti di Puncak Asmara Gunung Gede. Berdiam di sana dalam waktu yang lama justru membuat kepala saya pusing dan badan semakin menggigil. Akhirnya saya memutuskan untuk turun daripada saya sendiri ikut tumbang karena menghirup asap belerang. Beberapa peserta dan panitia juga mengisyaratkan untuk segera turun karena takut kemalaman. Dari situ, saya tidak tahu siapa lagi anak-anak saya. Semua berpencar dan saling mendahului.

Aku di sini
Kamu di mana?

Kami berjalan, berlari, terjatuh, mencoba bangkit dan terus melangkah lagi hingga kembali ke peradaban yang sebenarnya. Walau jalur Cibodas di malam hari benar-benar menghantui, sampai-sampai kuku kaki saya nunclep lagi. Bagaimana denganmu, Kak Ast? Kuku kakimu sehat? Btw, jaket kita kok sama-sama warna pink? Nah, Giraffe Journey 3 versi Asti bisa dilihat di >>> sini! :)

Wednesday, 30 April 2014

Keluarga Kecil di Surya Kencana


Dan, taraaaaaa...
Finally, saya ngetik ini pakai komputer kantor sambil diliatin karyawan yang lain :( Iya, laptop saya, si Arjuna, metong bo'! Gara-gara dicolak-colok flashdisk dan memory card jahanam. Sekarang dia nginep di konter Asus selama dua minggu :(((

Kenapa Keluarga Kecil? Karena team saya kecil-kecil! Heuheuheu. Jadi gini, sebelumnya saya sudah pernah membahas Fun Hiking Education di sini >> Now, Women No Cry! Iya, saya terjebak pendakian massal dari Bekasi Summiter dan diberi tugas menjadi Leader Team 3 dengan partner saya seorang pria betawi berhidung mancung dengan nama Hanis.

Tail Team 3
Kami berdua diberi beban mengurus lima orang anak perempuan yang bawel dan berisiknya minta ampun. Diantaranya yaitu Raha, Amira, Erlita, Annisa dan Amelia Poki-poki. Sesuai dengan namanya, Amelia Poki-poki adalah yang ter-rempong dan ter-rusuh. Ia memprovokatori teman-temannya untuk memanggil kami berdua dengan sebutan Ayah dan Bunda. What?!!!

"Kak Agit, Bang Hanis, kelompok lain pada manggil leader-nya Daddy-Mommy, Opa-Oma, Ummi-Abi. Berarti kita manggil kalian Ayah sama Bunda aja, yaaaa!" Seru Amelia Poki-poki dengan manja. Yang lainnya meng-iyakan. Sementara saya hanya bisa menghela napas panjang. Dan Hanis, ia hanya geleng-geleng kepala.

Acara ini dimulai dari Hari Jum'at, 18 April 2014. Para peserta dan panitia telah berkumpul sejak pagi, sedangkan saya baru datang ketika hari hampir sore. Jam keberangkatan cukup ngaret, kami baru meninggalkan Bekasi pukul lima sore. Saat itu terbagi menjadi tiga tronton. Total peserta dan panitia yaitu lima puluh tujuh orang. Rame, ya?

Tronton yang kami tumpangi memutuskan untuk melalui jalur Cianjur menuju Basecamp Putri yang terletak di Cipanas, mengingat jalur puncak dan Cisarua pasti macet sekali. Maklum, long weekend. Di tronton, perut kami serasa di-aduk-aduk. Jalurnya naik turun, kayak hati saya tiap kali ingat dia (╥﹏╥) 

Kami baru tiba di Basecamp Putri menjelang tengah malam. Entah kenapa lama sekali. Kepala saya pusing nggak karuan. Selesai memastikan anak-anak saya telah mengisi perut dan tidur dalam keadaan kenyang, saya memaksakan diri untuk menelan dua buah antimo agar bisa cepat tidur.


Sabtu, 19 April 2014

Saya bangun pukul tiga pagi. Itu pun dibangunkan Hanis karena beberapa peserta yang maag-nya kambuh. Duh, dek ( ._.)/||  Mbok ya kayak saya, kerjanya makan terus. Kan kasihan perutmu. Untung anak-anak Bunda rajin makan, ya  (/‾▿‾)/ 

Selesai mengurus peserta sakit, saya mulai kelaparan dan mencari makan. Hanis menyuapi saya beberapa sendok nasi uduk. Beberapa melanjutkan tidur hingga subuh, beberapa yang lainnya sibuk mandi dan berkemas. Hari begitu cepat menuju pagi. Matahari juga terlalu cepat terbit. Roda dunia terus berputar, sementara hati saya tak juga singgah dari hatimu. #eaaaa

Matahari terbit

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...