Showing posts with label Yang Berkecamuk di Pikiranku. Show all posts
Showing posts with label Yang Berkecamuk di Pikiranku. Show all posts

Tuesday, 26 November 2013

Apa Tujuan dan Alasanmu Naik Gunung?

Mungkin banyak dari teman-teman yang masih bingung, untuk apa tujuan kalian naik gunung? 
Beberapa biasa menjawab seperti ini :
  1. Mensyukuri nikmat Tuhan bahwa Alam Indonesia indah
  2. Menikmati ketinggian
  3. Bermain dengan awan
  4. Melihat pemandangan yang nggak bisa dilihat di kota
  5. Memaknai arti kehidupan yang sebenarnya
  6. Merasakan kesenangan tersendiri ketika sampai puncak
  7. Mengartikan apa itu kebersamaan
  8. Menghilang dari peradaban
  9. Bosan dengan rutinitas
  10. Olahraga
  11. Mencari jodoh
  12. Passion 
  13. Hobi
  14. Lifestyle
  15. Ikut-ikutan
Atau ada tujuan lain dari naik gunung? Silakan diisi di kolom komentar :)

Saya sendiri bingung ketika orang tua bertanya, "Untuk apa naik gunung? Sudah melelahkan, beresiko pula. Bagaimana kalau hilang? Dimakan binatang? Meninggal karena kedinginan?" Saya hanya bungkam dan berteriak dalam batin saya sendiri, bahwa takdir-Nya telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz. Setidaknya, saya selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatan apapun.

Mungkin beberapa teman pun menganggap saya aneh atas kegiatan ini. Saya mahfum benar, sebagai anak yang lebih sering menghabiskan waktunya dengan membaca buku berjam-jam atau mengetik sesuatu di laptopnya seharian penuh ternyata diam-diam memiliki hobi naik gunung. Sebetulnya bukan hobi, sih. Namun lebih tepat dikatakan sebagai candu.

Ya, saya kecanduan naik gunung.
Saya ketagihan bagaimana rasanya berada di atas awan, bercengkrama dalam hangatnya kebersamaan, dan lain-lain yang telah saya sebutkan di atas. Saya juga merasa memiliki hutang tiap kali turun gunung dan tak menulisnya ulang di blog ini. Semakin sering saya naik gunung, semakin banyak tulisan yang saya hasilkan.

Berjalanlah keluar, kamu akan memiliki satu sampai dua dongeng saat kembali.

Quote diatas yang selalu meyakinkan saya, bahwa sebuah perjalanan tak akan ada yang sia-sia. Seburuk apapun perjalanan yang kita tempuh, pasti menghasilkan cerita, bukan? Cerita buruk atau menyenangkan, yang penting kita memiliki oleh-oleh, sebuah dongeng.

Dan hal itu pula yang menjadi tujuan sekaligus alasan saya naik gunung...

"Semua ini demi cerita ke anak-cucuku nanti. Bukan hanya cerita Cinderella dan sepatu kacanya, tapi juga aku dan sepatu gunungku."


Saya selalu membayangkan bagaimana anak-cucu saya nanti, dengan mata mereka yang berbinar mendengarkan ibu/neneknya bercerita tentang gunung-gunung yang tinggi, pucuk-pucuk yang tak terjangkau, maut yang begitu dekat, hingga bagaimana memaknai arti hidup sebenarnya. Saya tak pernah mendengar dongeng seperti itu dari orang tua saya sendiri. Saya ingin anak-cucu saya nanti memiliki wawasan yang luas, yang membuat mereka bisa menjalani hidup layaknya orang naik gunung; "Tetap menunduk ketika naik dan tetap tegak ketika turun." Yang memiliki arti seperti ini, kita harus tetap merendah ketika sedang berada di puncak kehidupan, dan berusaha tetap tegar ketika hidup sedang di bawah. Roda benar-benar berputar, bukan?

Jadi, apa tujuan dan alasanmu naik gunung?
Apa tujuan kita sama?
Kayak mereka-mereka ini, tiba-tiba posting foto kayak gini...








:)

Wednesday, 5 June 2013

Mimpi dan Impian


Mimpi baik itu datangnya dari Tuhan,
Sementara mimpi buruk datang dari setan.
Sungguh saya tak pernah peduli mimpi itu datang dari mana. Bagi saya, mimpi hanyalah sebuah bunga tidur. Penghias dari segala kegiatan melelahkan nan membosankan yang kita lalui setiap hari. Tidur, bermimpi dan menjadikan mimpi tersebut sebagai sebuah pelajaran, renungan atau penyemangat ketika kita telah bangun. Namun sayang, banyak yang lupa betapa dalamnya makna bangun tidur; bangun untuk hidup yang lebih baik.

Iya, setelah bangun tidur, kamu akan melakukan hal yang itu-itu saja seperti sebelumnya. Tak pernah jauh lebih baik. Bahkan biasanya jauh lebih membosankan. Karena sesungguhnya hari-hari dan tanggal yang paling menarik hanya jatuh pada akhir bulan; ketika gajian.

Apakah tujuan hidup kamu hanya sekedar menunggu gajian?

Untuk urusan bermimpi ketika tidur, saya bukan ahlinya. Mungkin saking lelahnya, saya hanya tertidur lelap, gelap, dan tiba-tiba terbangun ketika hari sudah terang. Iya, mimpi saya hanya gelap dan itu berlangsung setiap hari. Yang saya ingat, beberapa kali mimpi dipatuk ular atau mimpi gigi saya tanggal. Mimpi seperti itu termasuk jenis mimpi yang mana? Baik atau buruk? Dari Tuhan atau setan? Beberapa orang pasti tahu artinya.

Tujuan hidup saya bukan hanya sekedar menunggu gajian. 
Dan impian saya bukanlah menjadi pegawai kantoran.

Banyak hal yang dapat kamu tanam selagi umur masih sedini ini, dan kamu panen ketika tua nanti.
Modal macam apa yang dapat kamu tanam? Segala sesuatunya bukankah butuh uang?
Menanam uang?

Tanamlah impianmu didalam hati dan pikiran. Lalu kamu siram dan beri pupuk dengan segala usaha dan pengalaman yang berkelanjutan. Lakukan terus menerus. Jangan pernah menyerah atau berhenti di tengah jalan. Kamu mau tanamanmu gagal panen?

Saya tahu, banyak dari kamu yang masih saja meremehkan impian orang lain. Sama seperti saya beberapa tahun lalu, saya pernah meremehkan impian orang lain ketika impian saya masih biasa saja dan anak-anak sekali; lulus sekolah, kuliah dan jadi dokter. Mimpi teman saya pada saat itu adalah ke Jepang. Mana bisa ke Jepang tanpa uang? Saya juga bisa ke Jepang ketika sudah jadi dokter. Pikir saya yang saat itu masih duduk di bangku SMP.

Namun nasib berkata lain, impian teman saya terwujud. Ia mendapat program pertukaran pelajar ketika kami sama-sama sedang duduk di bangku SMA, di sekolah yang berbeda. Dan seperti impiannya, ia lolos ke Jepang, tanpa uang, tanpa harus menunggu kuliah bertahun-tahun dan mendapat gelar dokter. Bahkan ia mendapat uang saku untuk hidup di negeri sakura itu selama beberapa bulan.

Saya banyak belajar dari mimpi dan impian.

Sekarang saatnya impian saya yang diremehkan orang, termasuk keluarga sendiri. Entah otak saya yang impulsnya berantakkan atau memang pola pikir kami yang tidak sejalan. Sudah terlalu banyak impian saya yang ditentang oleh Ayah dan Ibu.

"Kamu pikir mudah menjadi seperti itu?"

"Bekerja saja yang benar di kantormu. Kuliah juga yang rajin."

Sebenarnya semua akan menjadi lebih mudah apabila impian saya didukung olehmu, Yah, Bu. Apa salahnya sekedar mendukung atau merestui? Impian pertama saya awalnya adalah kuliah di Solo. Fokus kuliah dengan beasiswa. Namun yang terjadi sekarang saya harus kuliah sambil bekerja, sambil menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke luar kota setiap bulan, atau sekedar menghilang dari peradaban berhari-hari dan kembali menjadi manusia normal. Kemudian menumpahkan hasil jalan-jalan dan renungannya di blog ini... bermimpi suatu saat ada penerbit yang tertarik. who knows? 

Letakkanlah impianmu setinggi langit.

Tak usah jauh-jauh. Cukup ditanam di hati dan pikiran saja.

Agar kau tak sakit ketika impianmu tiba-tiba jatuh terhempas ke bumi.

Banyak yang berbeda setelah saya turun dari titik tertinggi di Pulau Jawa, Gunung Semeru. Entah sugesti atau apa, Semeru mengubah segalanya.

Saya yang tadinya seorang pemikir akut ketika 'gagal' dalam suatu hal, sekarang bisa lebih santai.
Saya yang tadinya seorang yang ketergantungan terhadap kabar pacar, sekarang sudah bisa menjalani hidup sendiri dan jauh lebih baik.
Saya yang tadinya selalu mengeluhkan tugas-tugas kampus dan kerjaan, sekarang hanya diam dan bergerak bagaimana kerjaan bisa lekas rampung-- walaupun masih suka emosian dan diselingi misuh.
Saya yang tadinya selalu sedih dan depresi ketika tulisan di blog ini menerima kritik pedas dari pembaca, sekarang hanya bergumam, "Perbandingan pengkritik dengan pendukung blog ini masih satu banding sekian. Lagipula, rata-rata orang yang suka mengkritik adalah orang yang tidak punya karya sama sekali. Mereka yang punya karya akan jauh lebih menghargai dan memberi saran bijak, bukan kritik."

Dan saya, yang tadinya punya impian biasa saja, kini mulai berani bermimpi yang jauh. Sejauh jarak dari desa terakhir menuju puncak, lalu menembus awan. Tak peduli dengan ejekan dan remehan yang terlontarkan. Justru ejekan dan remehan itulah yang membuat saya lebih kuat dari sebelumnya. Sama seperti ketika semua orang tertawa sambil  meremehkan saya yang berpamitan pergi Mahameru. Sudah terbukti, kan, siapa yang akhirnya tertawa belakangan?

Tak banyak yang dapat saya lakukan saat ini, selain menanam impian dan menyuburkannya sendirian.

Bermimpilah, dan bangun untuk hidup yang lebih baik.

Jangan pernah takut melangkahkan kaki untuk memulai sebuah impian. Karena sebuah hasil yang besar selalu dimulai dari langkah awal.

Hadapilah, ujian hidupmu tak seberat berjalan di trek pasir Mahameru.






Agita Violy,
Enam puluh lima hari menuju 19 tahun.

Friday, 21 December 2012

Apa yang Kamu Cari di Bagian Timur Pulau Jawa?


 *tulisan ini telah dipublish diblog Aku dan Mahameru sebagai pra-Jurnal Memorable Trekking Semeru 2013 oleh BackpackerStore :)


Namaku Agita Violy, panggil saja Gita, seorang gadis berusia 18 tahun yang selama setahun terakhir bekerja sebagai tenaga medis di sebuah Laboratorium swasta. Saat ini sedang sibuk menjadi seorang mahasiswi kelas malam dengan mengambil jurusan sastra Inggris. Kebetulan kampus mengumumkan libur akhir tahun 2012 berlangsung selama dua minggu. Satu minggu sebagai libur natal dan tahun baru, sementara seminggu berikutnya diberikan sebagai minggu tenang menjelang UAS. Aku mulai mencari-cari apa yang harus kulakukan ketika liburan, aku mulai bertanya-tanya kepada diriku sendiri tentang apa saja yang harus kuubah tahun depan. Sampai ketika aku menemukan sebuah pengumuman pendakian ke puncak tertinggi di pulau Jawa yang kegiatannya dilakukan untuk konservasi alam. Aku merasa tertarik mengikutinya.

“Apa yang kamu cari dibagian timur pulau jawa?” Tanya Ayah ketika aku mengutarakan niat untuk mengikuti kegiatan Memorable Trekking #Semeru2013 yang diadakan oleh Backpacker Store.

“Aku mau mencari jati diri, Yah..” Jawabku sekenanya kala itu.

“Kenapa jauh-jauh kesana? Apa selama setahun kamu kost belum bisa menemukan jati diri?” Tanyanya lagi.

“Ini udah kayak panggilan alam, Yah. Izinkan aku.” Jawabku melemah. Beliau mengangguk lalu meninggalkanku.

Semeru, Malang, Jawa Timur. Sebuah tempat yang begitu menggelitik rasa penasaranku. Tepat tujuh tahun aku bertanya-tanya tentang tempat itu. Lama sekali bukan? Bermula dari sebuah perkenalanku dengan seorang gadis dari desa Tumpang, namanya Nifa. Saat itu aku masih duduk dibangku SMP, sebuah perkenalan yang datang melalui surat. Ya, Nifa sahabat penaku dan sampai saat inipun aku belum pernah bertatap muka dengannya.

“Salam kenal, namaku Nifa. Aku lahir dan dibesarkan di desa Tumpang, Malang. Kamu tahu Gunung Semeru, kan? Itu dekat sekali dengan desaku.” Sebuah kalimat perkenalan yang terdengar remeh namun memberi kesan tersendiri untukku. Seperti apa kota Malang? Seperti apa desa Tumpang? Seperti apa Gunung Semeru?

Ditambah lagi, selama setahun terakhir aku tinggal disebuah kost di bilangan Mampang, Jakarta Selatan. Aku tak punya banyak teman kala itu, hanya ada satu teman yang selalu bersedia membantuku. Sebut saja Mbak Mel. Dan lagi-lagi, ia asli Malang. Pernah beberapa kali ke Bromo dan Pananjakan, namun belum pernah ke Semeru.

Rasa penasaran semakin membuncah ketika aku membaca novel 5cm, sebuah catatan perjalanan beberapa orang sahabat ke sebuah puncak abadi para dewa, Mahameru. Betapa indahnya imajinasiku kala membaca karya Donny Dhirgantoro itu. Dan apa yang mereka lakukan disana? Apa yang mereka cari disana? Mahameru adalah perjalanan hati, perjalanan untuk mencari jati diri.

Kemudian novel yang serupa, Tahta Mahameru karya Azzura Dayana yang baru rilis beberapa bulan lalu. Ia menjelaskan lebih detail tentang keindahan negeri diatas awan itu. Tentang seseorang yang awalnya memiliki sikap acuh namun ketika beberapa kali ke Semeru, akhirnya ia mengubah sikapnya menjadi lebih baik. Terlalu banyak hal yang dimiliki Semeru, sampai-sampai tak dapat dijelaskan satu persatu.

“Sebuah negeri tidak akan pernah kehabisan stok pemimpinnya selama masih ada pemuda yang senang main ke gunung, hutan dan pantai” – 5cm. Kurang lebih maknanya seperti itu, kalau redaksi lengkapnya aku kurang hafal. Aku termasuk orang yang setuju dengan kalimat di atas. Ada yang bilang pemimpin itu dilahirkan dan ada juga yang bilang bahwa pemimpin itu diciptakan. Menurutku tidak penting pemimpin itu dilahirkan ataupun diciptakan, yang jelas jiwa kepemimpinan tidak dapat dimiliki dengan mudah. Sebuah jati diri memang perlu dicari, dengan sebuah perjalanan.

Aku dan Mahameru, tujuh tahun aku menunggu perjalanan ini. Aku menyebutnya sebagai panggilan alam. Persahabatan dengan Nifa, satu kost dengan Mbak Mel, buku-buku yang tak sengaja kubeli dan kubaca, bertemu dengan akun Backpacker Store, ini merupakan suatu pertanda bahwa Mahameru siap menerimaku. Inilah yang ku cari di bagian timur pulau Jawa.

Memorable Trekking #Semeru2013 dengan Backpacker Store ini merupakan pendakianku yang pertama. Aku sudah hapal sekali jalur-jalur menuju puncak abadi para dewa itu, namun hanya dalam imajinasiku ketika membaca buku, pernah juga kujadikan sebagai tugas destinasi wisata ( bisa dibaca disini ) ). Serunya menaiki Jeep dari Pasar Tumpang hingga Ranu Pane, keindahan Ranu Kumbolo, mitos tanjakan cinta, padang rumput Oro-oro Ombo, bermalam di Kalimati, melintasi Arcopodo, trek pasir ketika summit attack, berdiri diatas gumpalan awan putih, menunaikan ibadah shalat shubuh dipuncak abadi para dewa, menyaksikan langsung matahari terbit seraya mengibarkan bendera merah putih di titik tertinggi pulau Jawa dan segala keindahan tentang Mahameru. Inilah saatnya untuk membuktikan langsung, merangkai catatan perjalanan kesana, menikmati saat-saat dimana aku bisa berdiri di puncak tertinggi pulau Jawa, mewujudkan mimpi untuk membuat buku seindah 5cm dan Tahta Mahameru serta hijrah menjadi pribadi yang lebih baik, InsyaAllah

@agitavio - 10 Desember 2012 – http://agitavioly.blogspot.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...